Minggu, 05 Juni 2011
Untuk mengatasi pulpitis, pasien tidak perlu lagi dicabut atau dikonservasi giginya, tetapi cukup disuntik antibiotik. Mereka yang pernah mengalami sakit gigi pasti akan merasa sangat tersiksa karena tidak jarang rasa sakit itu menjalar hingga saraf-saraf otak. Saking tak tertahankan rasa nyerinya, tidak aneh jika penderita sering uring-uringan. Dalam istilah medis, penyakit yang menyerang gigi hingga menyebabkan rasa nyut-nyutan yang tidak tertahankan itu disebut dengan pulpitis. Pulpitis merupakan sebuah peradangan pada pulpa gigi oleh bakteri semisal Streptococcus, Propionibacterium, Eubacterium, dan Actinomyces. Menurut Tetiana Haniastuti, dosen biologi mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, bakteri itu meginfeksi gigi sehingga terjadi pembengkakan di dalam pulpa yang menekan saraf sehingga menyebabkan sakit. Dia mengatakan sejauh ini untuk mengobati sakit gigi tersebut para dokter melakukan terapi dengan metode konvensional. Dokter akan melakukan perawatan saluran akar berupa pulpektomi atau pulpotomi. Pulpektomi adalah pengam bilan seluruh jaringan akar dan korona gigi, dan pulpotomi berarti mengambil jaringan akar dan korona gigi yang mengalami infeksi, sementara jaringan yang ada pada saluran akar ditinggalkan. Metode konvensional yang kerap berupa pengonservasian dan pencabutan akan merusak gigi. Teknik yang terbilang “radikal” itu dilakukan dengan pertimbangan agar penderita tidak mengalami sakit yang lebih parah. Selain itu, teknik tersebut dilakukan untuk mencegah rasa sakit menyebar ke seluruh jaringan gigi. Pada perawatan saluran akar gigi, dilakukan pengambilan seluruh jaringan pulpa yang meliputi pembuluh darah, serabut saraf, dan jaringan ikat. Hal itu mengakibatkan adanya ruang kosong yang biasanya diganti dengan bahan pengisi saluran akar, misalnya gutta percha. Perawatan saluran akar gigi secara konvensional akan menimbulkan konsekuensi pada kerapuhan gigi.
Gigi tidak kuat lagi karena struktur jaringannya rapuh. Apabila menerima tekanan yang kuat, gigi akan mudah patah. Menurut Tetiana yang juga, doktor bidang mikrobiologi oral dari Universitas Niigata, Jepang, itu lantaran keterbatasan ekonomi, tek nologi, dan pengetahuan para dokter gigi, di Indonesia pencabutan gigi merupakan tindakan yang lazim dilakukan pada pasien pulpitis. “Bahkan pasien sendiri yang meminta agar gigi mereka dicabut untuk mempercepat hilangnya rasa sakit,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Hani itu. Lebih lanjut, Hani menuturkan sebenarnya gigi yang tanggal atau ompong karena dicabut tidaklah menyelesaikan masalah. Justru, gigi ompong menjadi awal dari persoalan-persoalan lain, semisal hilangnya ruang untuk kemunculan gigi permanen.
Apabila hal itu terjadi pada gigi permanen, akan menyebabkan gigi mudah tanggal karena adanya infeksi jaringan tulang dan sendi (pocket periodontal). Hani, bersama-sama dengan Profesor Hoshino Etsuro dari Universitas Niigata, Jepang, mengembangkan metode pengobatan sakit gigi yang lebih canggih. Metode itu dikenal dengan nama Lesion Sterilization and Tissue Repair 3Mix-MP SavePulp Th erapy (LSTR). “Metode ini akan banyak mendapatkan penentangan dari kalangan praktisi kedokteran gigi. Pasalnya, LSTR mengubah banyak hal mengenai paradigma penanganan sakit gigi,” kata Hani. Tidak Merusak Menurut Hani, metode LSTR yang diaplikasikan di Indonesia tidak merusak gigi seperti halnya metode pencabutan gigi. Metode itu tetap mempertahankan vitalitas gigi dengan cara mencegah infeksi pulpa. Caranya dengan memberikan antibiotik yang dinjeksikan ke dalam pulpa. Masuknya antibiotik itu diharapkan bisa membunuh bakteri.
Ketika terjadi pembunuhan bakteri atau meredanya aktivitas bakteri tersebut, pada waktu bersamaan, terjadi regenerasi sel gigi. Adanya regenerasi memungkinkan dilakukannya perbaikan jaringan gigi, terutama di daerah pulpa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hoshino dengan cara in vitro dan in situ, kombinasi tiga antibiotik, yaitu metronidazole, ciprofl oxacin, dan minocycline, terbukti efektif membunuh bakteri oral yang ditemukan pada karies maupun lesi-lesi di saraf gigi (endodontik). Pada kasus pulpitis, pasien yang gigi permanennya dirawat dengan metode LSTR mengaku tidak lagi merasakan sakit. Selain itu, gigi berfungsi secara normal. Parameter tersebut mengindikasikan keberhasilan metode LSTR. Hani juga berhasil melakukan uji coba dengan teknik immunohistokimiawi, yaitu suatu teknik penentuan lokasi antigen (protein target) dalam jaringan atau sel menggunakan reaksi antigen-antibodi.
Serabut saraf dan sel-sel odon toblas (sel pembentuk dentin) pada pulpa gigi tetap vital. “Jika odontoblas masih vital, maka akan mampu membentuk dentin tersier sehingga terjadi perbaikan jaringan gigi,” paparnya. Selama ini, terapi endodontik akibat pulpitis harus dilakukan oleh dokter spesialis konservasi gigi yang jumlahnya belum banyak. Para ahli itu memiliki keterampilan dan peralatan khusus. Namun, dengan teknik LSTR, tidak diperlukan dokter yang memiliki spesialisasi konservasi, dokter gigi umum pun dapat mengaplikasikan metode tersebut. Selain mudah dilakukan, metode itu memungkinkan vitalitas gigi tetap dipertahankan. Dengan begitu, fungsi gigi secara normal tetap terjaga. Hani mengatakan banyak pasien mengeluh ketika harus datang berulang kali ke dokter gigi. Mereka umumnya menyayangkan banyak waktu yang terbuang untuk meng antre dan bolak-balik dari rumah ke dokter. Adanya metode LSTR menjadikan waktu periksa lebih singkat. Pasien cukup sekali datang, dan proses terapi langsung selesai. Keunggulan lain dari metode LSTR ialah biaya yang harus dikeluarkan pasien lebih sedikit. Pasalnya, metode itu hanya memanfaatkan suntikan antibiotik.
hay/L-2
Label: mengalami, Pengobatan, revolusi, sakit
Jumat, 03 Juni 2011
Ilmu pengobatan dan tarapi penyakit sangat banyak kita temui, apa lagi saat ini dengan kemajuan teknologi internet kita dapat mengetahui berbagai hal khususnya dibidang kesehatan gigi dan mulut. Masyarakat tidak lagi awam tentang kesehatan gigi dan mulut. Namun dalam kenyataannya masih banyak dari kita pergi ke dokter gigi untuk mengobati dan bukan untuk mencegah. Hal ini juga perlu disadari oleh rekan medis agar selalu memberikan petunjuk pencegahan kepada pasien. Perlu disadari keberhasialan suatu tindakan pengobatan tidak hanya dapat dicapai oleh satu pihak saja, melainkan harus adanya kerjasama antara pasien dan dokter itu sendiri.
Pencegahan penyakit merupakan hal yang sangat penting namun sering kali terlupakan ataupun sengaja dilupakan. Namun perlu disadari mencegah penyakit sebenarnya lebih murah dari pada mengobati, jadi kenapa kita tidak mencegah sebelum sakit? Beberapa dari kita mungkin belum mengetahui secara tepat bagaimana cara mencegah dan merawat agar kesehatan gigi dan mulut kita tetap terjaga dengan baik, sebenarnya tidak mesti dengan biaya yang mahal dan bisa dilakukan sendiri dirumah. Berikut ada beberapa cara umun yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit gigi dan mulut.
Memelihara kebersihan mulut ( menghilangkan plak dan bakteri ). Memelihara kebersian mulut dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satu cara yang paling efektif adalah dengan menggosok gigi secara rutin, agar kita dapat memutus rantai penyebab terjadinya karies dan berbagai penyakit mulut lainnya.Memperkuat gigi ( dengan Flour ). Cara memperkuat gigi dengan menggunakan flour adalah dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung flour. Namun beberapa dari kita mungkin masih percaya dan menggunakan daun sirih untuk menyehatkan gigi. Namun yang paling sanagt tidak dianjurkan adalah menyikat gigi dengan menggunakan batu bata ataupun dengan tanah liat, beberapa orang masih menggunakan cara ini dengan harapan gigi terlihat lebih bersih dan kuat. Namun pada kenyataannya penggunaan bata malah akan mengikis lapisan email gigi.Mengurangi konsumsi makanan yang manis dan lengket. Makanan yang kita makan merupakan nutrisi yang penting untuk tubuh kita namun beberapa makanan mungkin tidak cocok untuk kesehatan gigi dan mulut kita, sebenarnya bukan tidak boleh namun apabila kita mengkonsumsi makanan manis dan lengket sebaiknya setelah itu langgung menggosok gigi dengan bersih agar sisa-sisa dari mankanan tersebut tidak menempel pada sela-sela gigi yang akan mempercepat terjadinya proses karies dan berbagai penyakit mulut lainnya.Membiasakan konsumsi makanan berserat dan menyehatkan gigi. Makanan serat selain bagus untuk kesehatan tubuh juga bagus untuk kesehatan gigi dan mulut. Bagi yang suka menggunakan tusuk gigi setelah makan untuk membersihkan sisa-sisa makanan cobalah untuk mengganti tusuk gigi dengan buah-buahan seperti apel, melon, pepaya,dll. Buah-buahan ini akan membantu kita untuk membersihkan sia-sia makanan yang menempel pada sela-sela gigi kita.
Setelah kita mengetahui cara ini ada baiknya kita mulai berbagi ilmu ini kepada orang-orang terdekat kita agar nantinya mereka dapat mengingatkan kita apabila kita lupa, bukankah memberi lebih baik dari pada menerima? Kebanyakan dari kita sebenarnya sudah mengetahuinya namun karena berbagai alasan sehingga tidak melakukan hal yang tersebut diatas. Jadi mulailah mengajak orang terdekat dan yang anda sayangi untuk sama-sama menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Mungkin lebih baik jika anda tempelkan tulisan diwastafel, kamar mandi ataupun diruang makan anda. Dari uraian diatas bisa disingkat seperti ini:
Sikat gigi minimal 2 kali yaitu sesudah sarapan dan sebelum tidur malam.Gunakan sikat gigi yang berbulu halus dan pasta gigi berflouride.Sikat seluruh permukaan gigi selama 2 menit, dan berkumur cukup 1 kali.Kurangi makan makanan yang bergula dan lengket ( tidak lebih dari 2 kali diantara waktu makan ).Makan buah berserat sebagai pencuci mulut.
Semoga bermanfaat untuk kita semua, selamat mencoba ?


